Selasa, 17 November 2009

PENINGKATAN ADOPSI TEKNOLOGI PAKAN DENGAN PENDEKATAN PARTISIPATIF UNTUK PENGEMBANGAN SAPI POTONG

Agustina Abdullah1 dan C. Imam Sutrisno2
1Jurusan Sosial Ekonomi Peternakan Fakultas Peternakan UNHAS Makassar
2Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan UNDIP Semarang

Dipresentasikan dalam
SEMINAR NASIONAL PETERNAKAN BERKELANJUTAN “Pengembangan Sistem Produksi dan Pemanfaatan Sumberdaya Lokal Untuk Kemandirian Pangan Asal Ternak dilaksanakan oleh Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran, Bandung 21-22 Oktober 2009

PENDAHULUAN

Pembangunan pertanian berbasis sektor peternakan dalam rangka peningkatan pendapatan petani peternak, pemerataan kesempatan kerja, perekonomian dan pemenuhan kebutuhan protein hewani dalam rangka pembangunan nasional pada umumnya merupakan program strategis yang perlu dikembangkan dalam bidang agribisnis melalui pola sistem pertanian terpadu (integrated farming system). Pada kenyataannya sektor pertanian dan sektor peternakan merupakan satu kesatuan yang terintegrasi dimana keduanya tidak akan terlepas dan saling melengkapi. Melihat potensi negara Indonesia yang memiliki sumber daya alam yang sangat mendukung merupakan peluang yang luas dalam melakukan usaha agribisnis pertanian dan peternakan (Imam, 2003).

Usaha ternak sapi potong secara umum dikelompokkan menjadi dua pola usaha, yaitu penggemukan dan pembibitan/pembesaran. Pola usaha penggemukan bertujuan untuk menggemukkan sapi umur muda dalam jangka waktu tertentu, kemudian dijual sebagai hewan potong. Sedangkan pola usaha pembibitan/ pembesaran bertujuan untuk menghasilkan anak kemudian dibesarkan (Ahmad et al., 2004). Dilain pihak, Yusdja (2004) menyatakan bahwa pada dasarnya ada enam bentuk struktur penguasaan dan pengusahaan ternak sapi potong yang dapat dipahami yakni : 1). Kelompok peternakan rakyat wilayah tanaman pangan. Pemeliharaan ternak sapi bersifat tradisional dan pemilikan sapi erat kaitannya dengan usaha pertanian. Bentuk ini umumnya ditemukan di pulau Jawa, 2). Kelompok peternakan rakyat yang tidak terkait dengan tanaman pangan. Pemeliharaan sapi bersifat tradisional dan pemilikan erat kaitannya dengan ketersediaan padang penggembalaan atau hijauan. Bentuk pemeliharaan ternak seperti ini sudah umum di Sumatera dan Indonesia Bagian Timur, 3). Kelompok peternakan rakyat dengan sistem bagi hasil. Pemeliharaan ternak mempunyai tujuan yang tergantung pada kesepakatan, 4). Kelompok usaha peternakan rakyat dan skala kecil. Pemeliharaan bersifat intensif, 5). Kelompok usaha peternakan skala menengah. Pemeliharaan sapi sangat intensif, penggunaan teknologi rendah. Kelompok ini terbagi dua yaitu kelompok usaha ternak sapi potong mandiri, dan kelompok usaha ternak sapi potong bermitra, serta 6). Kelompok usaha peternakan swasta skala besar (feedlotters). Pemeliharaan sapi dilakukan intensif, menggunakan teknologi tinggi.

Namun demikian, menurut Yusdja dan Ilham (2003) dimasa yang akan datang struktur pemilikan atau pengusahaan ternak akan mengalami perubahan, karena hal- hal berikut :

1. Adanya perubahan struktur penggunaan lahan, dari persawahan menjadi lahan untuk keperluan sektor non pertanian. Sehingga jika kehadiran ternak sapi dikaitkan dengan perkembangan pertanian, berarti dengan menyusutnya lahan pertanian di masa mendatang akan diikuti oleh menyusutnya jumlah ternak.

2. Introduksi traktor akan menggantikan peran ternak sapi, akan menyebabkan hilangnya budaya pertanian dengan menggunakan ternak sapi. Introduksi traktor pertanian bagaimanapun juga akan mempengaruhi populasi ternak. Selama ini kebijakan introduksi traktor tidak disertai dengan kebijakan yang dapat mengarahkan tujuan pemeliharaan ternak menjadi sumber penghasil daging.

3. Suplai daging dari usaha rakyat menghadapi stagnasi (karena nomor 1 dan 2 diatas) sedangkan permintaan daging sapi terus melonjak maka akan muncul perusahaan-perusahaan skala besar untuk mengisi kekosongan produksi sapi yang tidak lagi bisa diandalkan dari usaha rakyat.

4. Pergeseran tenaga pertanian dari pedesaan ke kota menyebabkan penurunan jumlah petani dan sekaligus menyebabkan menyusut pula jumlah pengelola ternak, sehingga jumlah ternak diramalkan menyusut. Sekalipun petani yang masih tertinggal telah diberi penyuluhan tentang mengalihkan fungsi sapi dari fungsi kerja menjadi sumber pendapatan, tetapi pemerintah tidak menyadari bahwa tindakan itu berarti mengubah budaya padat karya menjadi padat modal. Sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh petani.

Daerah sentra produksi sapi potong dapat dapat dilihat dan dikarakterisasi dari jumlah populasi ternak daerah tersebut. Karena perkembangan ternak di suatu daerah menggambarkan kemampuan sumberdaya di daerah tersebut, seperti ketersediaan pakan, keberadaan peternak dan sistem pendukung lainnya. Berdasarkan kriteria itu, daerah yang diprioritaskan untuk pengembangan sapi potong adalah Jatim, Jateng, Sulsel, NAD, Sumbar, Bali, NTT, NTB, Lampung, Sumsel, dan Sultra (Ilham, 2007). Namun demikian ada juga daerah-daerah yang populasi ternaknya terbatas. Hal ini dapat disebabkan belum optimalnya pemanfaatan sumberdaya pakan, seperti pakan hijauan dan limbah agroindustri untuk industri ternak. Disamping itu tingginya konsumsi daerah tersebut menyebabkan banyak terjadi pemotongan ternak. Daerah seperti ini merupakan daerah potensial untuk dikembangkan sebagai sentra produksi sapi potong, seperti Sumatera Utara dan Jawa Barat.

INOVASI DAN ALIH TEKNOLOGI PAKAN

Peningkatan produksi dan produktivitas ternak sapi potong sangat tergantung dari tiga faktor yaitu pakan, pemuliabiakan dan pemeliharaan. Pakan bagi ternak ruminansia tergantung dari penyediaan hijauan dengan jumlah cukup, berkualitas tinggi dan berkesinambungan sepanjang tahun. Rendahnya nilai gizi dan fluktuasi produksi hijauan pakan sepanjang tahun merupakan masalah penyediaan pakan di Indonesia sampai saat ini (Sutrisno, 2009). Pakan merupakan salah satu faktor dasar yang penting dalam usaha ternak karena mempunyai pengaruh yang besar terhadap produktivitas ternak. Pakan dari sudut nutrisi merupakan salah satu unsur yang sangat penting untuk menunjang kebutuhan hidup pokok, pertumbuhan, produksi dan atau reproduksi ternak. Pakan yang baik akan menjadikan ternak sanggup menjalankan fungsi proses dalam tubuh secara normal. Dalam batas normal, pakan bagi ternak berguna untuk menjaga keseimbangan jaringan tubuh, dan menghasilkan energi sehingga mampu melakukan peran dalam proses metabolisme (Ahmad et al., 2004).

Secara umum untuk pengembangan pakan memiliki permasalahan-permasalahan, antara lain : a) kebutuhan bahan baku pakan tidak seluruhnya dipenuhi dari lokal sehingga masih mengandalkan impor, b) bahan baku pakan lokal belum dimanfaatkan secara optimal, c) ketersediaan pakan lokal tidak kontinyu dan kurang berkualitas, d) penggunaan tanaman legum sebagai sumber pakan belum optimal, e) pemanfaatan lahan tidur dan lahan integrasi masih rendah, f) penerapan teknologi pakan masih rendah, g) produksi pakan nasional tidak pasti akibat akurasi data yang kurang tepat, serta h) penelitian dan aplikasinya tidak sejalan (Budiman, 2001).

Untuk mengatasi berbagai permasalahan di atas, maka kebijaksanaan pengembangan pakan ternak diarahkan untuk mengoptimalkan pemanfaatan bahan baku pakan lokal untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan baku pakan. Kebijaksanaan pengembangan pakan ternak meliputi : a) kebijakan pakan konsentrat, yaitu mengusahakan tersedianya bahan baku pakan konsentrat dengan jumlah dan mutu yang terjamin, mudah diperoleh disetiap waktu dan tempat serta harganya dapat dijangkau oleh peternak, mengusahakan adanya berbagai pilihan produsen pengolah pakan mulai dari pabrik besar sampai pada unit-unit pengolahan pakan skala kecil yang ada di pedesaan, mengusahakan agar dapat dibangunnya silo-silo seperti silo jagung pada sentra produksi jagung, serta mengkaji ulang standar mutu bahan baku pakan dan pakan. b) pengembangan pakan hijauan, yaitu mengoptimalkan lahan-lahan potensial untuk penyediaan bahan pakan hijauan dengan meningkatkan partisipasi peternak, mengembangkan teknologi limbah pertanian dan industri pertanian untuk pakan, mengembangkan jenis-jenis hijauan pakan sesuai dengan kondisi agroklimat setempat, serta mengembangkan tanaman leguminosa lokal sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pakan hijauan yang diberikan peternak (Sudardjat, 2000).

Secara spesifik, Sutrisno (1985) dan Nitis (1993) memberi solusi untuk mengatasi kekurangan dan ketidak-kontinyuan penyediaan hijauan pakan di daerah marjinal yang biasanya padat ternak, yaitu dengan : (1) meningkatkan penggunaan tanah-tanah kosong dibatas pekarangan, tepi jalan, pematang sawah, dan tegalan. (2) memanfaatkan tanah di bawah tegakan pohon, (3) meningkatkan usaha tumpangsari tanaman pakan dengan tanaman pangan (companion cropping system), (4) penanaman leguminosa pohon dengan tanaman pangan (alley cropping system), (5) meningkatkan produktivitas tanah kritis melalui (a) penanaman tanaman pagar berupa leguminosa pohon di lahan pekarangan (home plot system), dan (b) penanaman rumput dan leguminosa secara berlapis, pada lapis pertama penanaman rumput dengan leguminosa herba, lapis kedua leguminosa perdu dan lapis ketiga dengan tanaman berbentuk pohon yang mampu menghasilkan hijauan (three strata forage system), (6) memanfaatkan kelebihan produksi pada musim panen, dan (7) memanfaatkan limbah pertanian maupun limbah rumah pemotongan hewan (RPH) dengan meningkatkan kualitasnya terlebih dahulu.

Dilain pihak, Soetanto (2000) menyatakan bahwa untuk mengatasi masalah pakan secara umum dapat dilakukan tiga pendekatan. Pertama, memperluas keragaman sumber pakan dengan melakukan upaya pemanfaatan lahan tidur untuk penanaman hijauan makanan ternak, pemanfaatan limbah pertanian dan industri, dan menghidupkan kembali tanah-tanah pangonan. Selain itu dengan melakukan sistem pertanian lorong dan intensifikasi lahan pekarangan dengan memanfaatkan leguminosa perdu. Kedua, meningkatkan kualitas pakan melalui peningkatan kualitas pakan basal, peningkatan nilai nutrisi protein serealia dan upaya menghilangkan senyawa antinutrisi dalam pakan. Ketiga, memperbaiki sistem pemberian pakan dengan upaya yang dilakukan adalah perbaikan formulasi ransum ternak yang sesuai dengan daerah tropis dan manajemen pemberian pakan untuk ternak.

Pengembangan pakan seharusnya mengembangkan potensi sumberdaya pakan lokal dengan teknologi yang sesuai. Kesediaan dan harga jenis pakan sangat tergantung pada musim. Jika musim kemarau atau musim hujan terlalu panjang, maka para peternak akan kesulitan mencari bahan pakan untuk ternaknya dan harga rumput sangat tinggi pada musim kemarau karena kelangkaannya, sedangkan pada musim penghujan ketersediaanya sangat melimpah dan harganya murah. Sementara untuk limbah pertanian dan industri pertanian, secara umum keberadaannya masih melimpah dan pemanfaatan masih belum optimal, maka perlu adanya sebuah teknologi untuk mengolah maupun mengawetkan sumber pakan baik yang berasal dari limbah maupun hijauan. Teknologi pengolahan pakan sebagai sebuah teknologi pendukung untuk usaha ternak, relatif sudah dikembangkan untuk peternakan unggas, namun belum banyak untuk ruminansia (Sutrisno, 2009 ; Sudardjat, 2000 ; Budiman, 2001).

Secara umum dalam penerapan teknologi, tak terkecuali teknologi pakan harus dipandang sebagai mekanisme perubahan sosial di masyarakat. Laurer (1993) berpendapat bahwa dengan penerapan teknologi mendorong terjadinya perubahan-perubahan yaitu pertama, teknologi memberikan alternatif bagi manusia. Teknologi baru membawa cita-cita yang sebelumnya tak mungkin dicapai kedalam alam kemungkinan, teknologi juga dapat mengubah kesukaran relatif dan memudahkan penyadaran akan nilai-nilai yang berbeda. Jadi dengan inovasi teknologi berarti masyarakat dihadapkan dengan sejumlah alternatif dan jika ia memilih alternatif baru, maka ia memulai perubahan di berbagai bidang. Kedua, teknologi mengubah pola-pola interaksi dalam masyarakat. Segera setelah suatu teknologi diterima, mungkin akan terjadi pergeseran yang dianut oleh teknologi itu sendiri. Ketiga, mengapa teknologi mempengaruhi perubahan, terletak pada kecenderungan perkembangan teknologi menimbulkan masalah baru dalam masyarakat.

Peningkatan penerapan teknologi pengolahan pakan merupakan salah satu solusi yang dapat dilakukan untuk mengatasi kekurangan pakan khususnya pada ternak ruminansia, seperti sapi potong. Melalui inovasi teknologi pakan, khususnya limbah pertanian dan industri dapat dimanfaatkan sebagai sumber pakan ternak yang potensial berbasis bahan baku lokal. Pengolahan dapat dilakukan melalui proses fisik, biologis dan kimiawi dengan teknik hidrolisis, fermentasi dan amoniasi. Keunggulan pengembangan pakan berbasis bahan baku lokal antara lain: 1) harga lebih murah, 2) mudah dalam pengumpulan bahan baku dan distribusi produk, 3) nilai tambah dari kegiatan prosesing pakan diperoleh langsung para peternak, 4) dapat menumbuh kembangkan embrio usaha agroinput pada skala usaha kecil dan menengah di daerah-daerah sentra produksi ternak, serta 5) membantu penyediaan bahan pakan seimbang karena adanya imbangan konsentrat dan kandungan nutrisi yang baik sehingga akan meningkatkan konsumsi bahan kering (Sutrisno, 2009).

Upaya pengembangan pakan melalui penggunaan teknologi pakan khususnya pada sapi potong telah banyak dilaporkan beberapa peneliti, diantaranya Ahmad et al., (2004) melaporkan bahwa dalam usaha penggemukan sapi sistem kereman selama lima bulan dengan menggunakan teknologi introduksi berupa perbaikan komposisi pakan dan penanggulangan penyakit mampu meningkatkan pertambahan berat badan harian sapi secara sangat nyata dibandingkan dengan teknologi petani yang hanya diberi pakan rumput lokal, tanpa melaksanakan penanggulangan penyakit. Tingkat adopsi petani terhadap pengolahan pakan bioplus (bioplus adalah probiotik yang mengandung mikroba pencerna serat kasar yang terseleksi dan berinteraksi positif dengan mikroba rumen ternak target) masih rendah, karena selain disebabkan oleh jarangnya pemotongan sapi/kerbau di rumah potong hewan untuk memperoleh isi rumen, juga disebabkan oleh rendahnya kuantitas dan kualitas mikroba yang dikandung bioplus, sehingga cepat menjadi rusak. Maka perlu dilakukan modifikasi atau penyempurnaan teknologi pembuatan dan penyimpanan bioplus sederhana, terutama untuk keperluan di lokasi yang sulit mendapatkan isi rumen kerbau.

Pemanfaatan teknologi dalam dunia peternakan belum banyak dirasakan oleh sebagian petani ternak, karena teknologi yang ada sekarang memerlukan biaya yang tinggi dan kurang cocok bila diterapkan pada petani ternak karena keterbatasan sarana dan prasarana serta sumber daya manusia yang kurang mendukung. Padahal teknologi dalam dunia peternakan sangat diperlukan dalam rangka peningkatan produksi dan peningkatan kualitas produk yang dihasilkan. Untuk itu peran serta semua pihak sangat diperlukan untuk mendukung terciptanya dan pemanfaatan teknologi tepat guna pada tingkat peternak (Imam, 2003).

ADOPSI TEKNOLOGI BERDASARKAN KEBUTUHAN PETERNAK SECARA PARTISIPATIF

Mardikanto (1993) menyatakan bahwa adopsi dapat diartikan sebagai proses perubahan perilaku baik yang berupa pengetahuan (cognitive), sikap (affective), maupun ketrampilan (psychomotoric) pada diri seseorang setelah menerima inovasi yang disampaikan. Inovasi sendiri adalah sesuatu ide, perilaku, produk, informasi dan praktek-praktek baru yang belum banyak diketahui, diterima dan digunakan/diterapkan/dilaksanakan oleh sebagian besar warga masyarakat dalam suatu lokalitas tertentu, yang dapat digunakan atau mendorong terjadinya perubahan-perubahan di masyarakat.

Untuk memilih inovasi yang tepat maka inovasi harus memenuhi kriteria-kriteria yang menurut Bunch (2001) yaitu dirasakan sebagai kebutuhan, sudah terlalu sering inovasi-inovasi pertanian yang ditawarkan kepada petani hanya “menggaruk ditempat yang tidak gatal” karena inovasi tersebut lebih banyak bersifat daftar keinginan dari pihak luar, bukan daftar kebutuhan masyarakat itu sendiri. Kejadian yang mudah untuk diketahui adalah tidak diadopsinya inovasi oleh petani. Masyarakat harus yakin bahwa inovasi itu memenuhi suatu kebutuhan yang benar-benar dirasakan.

Dilain pihak, Rogers (1995) menyatakan bahwa berhasil tidaknya pengembangan teknologi ditentukan oleh mau tidaknya petani mengadopsi teknologi yang dianjurkan. Proses adopsi dan difusi suatu teknologi termasuk teknologi pertanian dapat dilihat dari berbagai sifatnya yaitu sifat intrinsik seperti keunggulan relatif dari inovasi yang diperkenalkan. Semakin tinggi tingkat keuntungan relatif semakin cepat pula teknologi tersebur diterima oleh masyarakat. Sifat lain dari teknologi yang mempengaruhi sehingga dapat diadopsi adalah sifat kerumitan inovasi (complexity), kemudahan inovasi diterapkan (triability), kemudahan inovasi diamati (observability), serta sifat ekstrinsik seperti kesesuaian (compatibility) inovasi dengan lingkungan.

Ponniah et al., (2008) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan proses penyebaran atau adopsi teknologi pertanian adalah : a). Partisipasi petani dan masyarakat. Dalam banyak kasus yang telah berhasil dilakukan bahwa partisipasi petani sangat menentukan diseminasi teknologi. Petani harus terlibat dalam keseluruhan aspek pengembangan usahatani dan dikembangkan berdasarkan inisiatif petani, dan petani harus memiliki responsifitas terhadap pengembangan teknologi. Bentuk pendekatan partisipatif merupakan pendekatan yang perlu dilakukan untuk menjalin adanya pertukaran ide dan pengetahuan di kalangan petani, dengan tenaga teknis, dan ilmuwan. Dengan pendekatan partisipatif akan terbangun interaksi antara petani dan pemangku kepentingan lainnya, dan saling percaya dan terjalinnya komunikasi yang terbuka. b). Hubungan antar kelompok dan kelembagaan masyarakat dengan petani. Hubungan kerjasama yang erat antara lembaga-lembaga penelitian, lembaga swadaya masyarakat dan petani menjadi penting dan efektif untuk mengembangkan dan menyebarkan suatu teknologi. Dalam banyak kasus, beberapa manfaat yang diperoleh dengan adanya hubungan kemitraan antar kelompok dan lembaga yang terlibat adalah peningkatan pengetahuan dan keterampilan, dukungan pembiayaan, mengembangkan kepercayaan dan keyakinan di antara mitra, memungkinkan berbagi tanggung jawab, membangun sebuah pendekatan holistik dalam pengembangan teknologi.

Suatu teknologi diadopsi oleh pengguna dalam hal ini petani, apabila teknologi tersebut dapat memberikan dampak positif yaitu keuntungan bagi penggunanya. Keuntungan tersebut dapat berupa keuntungan langsung yaitu berupa peningkatan produktivitas atau pendapatan usahatani, atau keuntungan tidak langsung lainnya (Sudana, 2008). Disamping teknologi memberikan dampak positif, dalam proses adopsi teknologi petani mengembangkan pula pengetahuan baru dari pengetahuan dasar teknologi yang sudah petani miliki. Apabila ada inovasi baru yang diperkenalkan kepada petani, maka petani akan melakukan serangkaian penelitian sederhana untuk menguji efektivitas dan manfaat dari inovasi baru tersebut. Dari hasil uji coba yang dilakukan, kemudian petani membuat keputusan apakah akan menerapkan inovasi baru tersebut atau tidak. Jika hasilnya seperti yang diharapkan maka petani akan mengadopsi teknologi atau pengetahuan tersebut (Sunaryo dan Joshi, 2003).

Kinerja transfer dan pengembangan suatu teknologi, sangat dipengaruhi oleh keberpihakan teknologi tersebut terhadap kepentingan petani sebagai pengguna dari teknologi tersebut, serta efektifitas dari teknologi tersebut terhadap pemecahan masalah yang sedang dihadapi petani. Apabila suatu teknologi keberpihakannya kepada kepentingan petani lebih nyata, serta efektif dalam memecahkan permasalahan yang sedang dihadapi petani, maka kinerja transfer dan pengembangan teknologi tersebut akan menjadi lebih baik. Tanpa banyak promosi teknologi tersebut akan dicari oleh pengguna baik petani maupun pihak terkait (Sudana, 2008).

Dalam metode pendekatan partisipatif, peran petani dianggap menjadi penting, selain penyuluh maupun peneliti. Perumusan peran petani, penyuluh dan peneliti serta perumusan masalah yang juga merupakan cirri-ciri partisipatif (Balitbang Deptan, 1998) adalah :

  1. Peran petani : mengemukankan/menyatakan akan kebutuhan untuk inovasi pertanian, menyeleksi dari beberapa teknologi pertanian yang mungkin dapat dipergunakan, menentukan pengelolaan (management) dari kondisi yang ada dalam uji coba, mencoba dan mengevaluasi apakah teknologi yang dipilih sesuai dengan kebutuhan, menyebar luaskan pengetahuannya kepada petani lain
  2. Peran penyuluh pertanian : menunjukkan kebutuhannya sendiri terhadap informasi tentang inovasi, memotivasi pengetahuan petani yang ada, menolong petani mengemukakan dengan baik akan kebutuhan mereka terhadap inovasi, mengevaluasi kemungkinan inovasi dalam sistem penyuluhan yang ada, menyebar luaskan pengetahuan inovasi, menyebar luaskan pengetahuan mengenai bagaimana melakukan uji coba dan mengevaluasi suatu inovasi
  3. Peran Peneliti : menolong petani dalam mengartikulasikan akan inovasi, mendemonstrasikan teknologi-teknologi yang mungkin dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan, menggali dan mempergunakan teknologi lokal yang ada, menyediakan prinsip dan metoda-metoda untuk menguji teknologi yang terpilih, mengevaluasi produktivitas dan keterlanjutannya (sustainability)

Akhirnya untuk meningkatkan adopsi teknologi peternakan diperlukan adanya penyuluhan. Penyuluhan sangat memiliki peranan penting dalam pengembangan peternakan khususnya dalam peningkatan proses adopsi teknologi peternakan kepada peternak. Keberhasilan penyuluhan sangat ditentukan oleh model penyuluhan, dimana model penyuluhan harus didesain atas dasar analisis kebutuhan peternak yang dilakukan secara partisipatif yaitu adanya kesesuaian metode, materi dan media yang digunakan, karena teknologi peternakan tidak diadopsi dapat diakibatkan oleh salah satunya kesalahan dalam memilih model penyuluhan (Abdullah, 2008a)

ADOPSI TEKNOLOGI PAKAN MELALUI PENGEMBANGAN

INDUSTRI PAKAN SKALA KECIL BERBASIS KELOMPOK TANI

Gabungan kelompok tani adalah gabungan dari beberapa kelompok tani yang melakukan usaha agribisnis di atas prinsip kebersamaan dan kemitraan sehingga mencapai peningkatan produksi dan pendapatan usahatani bagi anggotanya dan petani lainnya. Gapoktan merupakan Wadah Kerjasama Antar Kelompok Tani (WKAK), yaitu kumpulan dari beberapa kelompok tani yang mempunyai kepentingan yang sama dalam pengembangan komoditas usaha tani tertentu untuk menggalang kepentingan bersama.

Pemberdayaan Gapoktan tersebut berada dalam konteks penguatan kelembagaan. Untuk dapat berkembangnya sistem dan usaha agribisnis diperlukan penguatan kelembagaan baik kelembagaan petani, maupun kelembagaan usaha dan pemerintah agar dapat berfungsi sesuai dengan perannya masing-masing. Kelembagaan petani dibina dan dikembangkan berdasarkan kepentingan masyarakat dan harus tumbuh dan berkembang dari masyarakat itu sendiri.

Untuk itu untuk pengembangan adopsi teknologi pakan pada tingkat peternak salah satu alternatif pelaksanaan adalah pengembangan pabrik pakan skala kecil. Hal ini dilakukan dengan mengembangkan kelompok tani dalam wadah gabungan kelompok tani sebagai pelaku usaha pabrik pakan. Mekanisme dan operasional pelaksanaan pengelolaan pabrik pakan dibicarakan secara bersama semua anggota kelompok tani. Pembagian peran dan fungsi kelompok tani dalam pengelolaan usaha pabrik pakan dapat berbeda sehingga masing-masing kelompok memiliki tanggung jawab.

Dengan pola pengelolaan seperti dikemukakan di atas, masing-masing kelompok memiliki peran dan fungsi yang berbeda sebagai fungsi utama dalam usaha pabrik pakan skala kecil.

1. Kelompok Satu : Menyediakan bahan baku (pembelian), melakukan pengolahan pendahuluan seperti pengeringan, jika diperlukan peningkatan nilai nutrisi (fermentasi), serta penggilingan bahan baku pakan.

2. Kelompok Dua : Melakukan aktivitas produksi pakan, pembuatan konsentrat dengan proses pencampuran, pemeletan, crumble, pengemasan dengan menggunakan mesin produksi pakan untuk menghasilkan complete feed

3. Kelompok Tiga : Berperan sebagai marketing/pemasaran pakan complete feed. Distribusi dan pemasaran kepada kelompok tani pelaku budidaya sapi potong

4. Kelompok Empat : Melakukan aktivitas budidaya sapi potong dengan menggunakan complete feed. Dengan complete feed penyediaan pakan lebih terjamin dan berkesinambungan.

Pengembangan industri pakan berbasis kelompok tani tidak terlepas dari pengembangan kelembagaan kelompok tani. Menurut Abdullah (2008b), bahwa pengembangan kelompok tani ternak dilaksanakan dengan menumbuhkan kesadaran para peternak, dimana keberadaan kelompok tani tersebut dilakukan dari, oleh dan untuk peternak. Pengembangan kelompok tani perlu dilaksanakan dengan nuansa partisipatif sehingga prinsip kesetaraan, transparansi, tanggungjawab, akuntabilitas serta kerjasama menjadi muatan-muatan baru dalam pemberdayaan peternak. Suatu kelompok tani yang terbentuk atas dasar adanya kesamaan kepentingan diantara peternak menjadikan kelompok tani tersebut dapat eksis dan memiliki kemampuan untuk melakukan akses kepada seluruh sumberdaya seperti sumberdaya alam, manusia, modal, informasi, serta sarana dan prasarana dalam mengembangan usahatani yang dilakukannya.

PENUTUP

Pemanfaatan teknologi belum banyak dirasakan oleh sebagian petani ternak, karena teknologi yang ada memerlukan biaya tinggi dan kurang cocok bila diterapkan pada petani ternak karena keterbatasan sarana dan prasarana serta sumber daya manusia yang kurang mendukung. Dalam banyak kasus yang telah berhasil dilakukan bahwa partisipasi petani sangat menentukan diseminasi teknologi pakan. Petani harus terlibat dalam keseluruhan aspek pengembangan usahatani dan dikembangkan berdasarkan inisiatif petani, dan petani harus memiliki responsifitas terhadap pengembangan teknologi.

Bentuk pendekatan partisipatif merupakan pendekatan yang perlu dilakukan untuk menjalin adanya pertukaran ide dan pengetahuan di kalangan petani, dengan tenaga teknis, dan ilmuwan. Dengan pendekatan partisipatif akan terbangun interaksi antara petani dan pemangku kepentingan lainnya, dan saling percaya dan terjalinnya komunikasi yang terbuka, dan pada gilirannya teknologi yang diadopsi oleh peternak adalah teknologi yang sesuai dengan kebutuhannya.

Peningkatan adopsi teknologi pakan pada tingkat peternak salah satu alternatif pelaksanaan adalah pengembangan pabrik pakan skala kecil. Hal ini dilakukan dengan mengembangkan kelompok tani dalam wadah gabungan kelompok tani sebagai pelaku usaha pabrik pakan. Mekanisme dan operasional pelaksanaan pengelolaan pabrik pakan dibicarakan secara bersama semua anggota kelompok tani. Pembagian peran dan fungsi kelompok tani dalam pengelolaan usaha pabrik pakan dapat berbeda sehingga masing-masing kelompok memiliki tanggung jawab.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, A. 2008a. Adopsi Teknologi Peternakan. Tribun Timur Makassar, 8 Nopember 2008. hal.2

Abdullah, A. 2008b. Peranan Penyuluhan dan Kelompok Tani Ternak untuk Meningkatkan Adopsi Teknologi dalam Peternakan Sapi Potong. Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Sapi Potong Menuju Percepatan Pencapaian Swasembada Daging Sapi Nasional. Jurusan Peternakan Universitas Tadulako dan Dinas Peternakan Prop.Sulawesi Tengah. Palu, 24 Nopember 2008. hal.188-195

Ahmad, S.N., D.D. Siswansyah dan D.K.S. Swastika. 2004. Kajian Sistem Usaha Ternak Sapi Potong di Kalimantan Tengah. Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol. 7 ( 2) : 155-170

Balitbang Deptan. 1998. Pedoman Pelaksanaan Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian Secara Partisipatif. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Deptan, Jakarta

Budiman, S. 2001. Dukungan pemerintah terhadap keberadaan bahan baku pakan lokal. Makalah Dies Natalis Himpunan Mahasiswa Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Fapet IPB. Bogor 25 Oktober 2001. Himpunan Mahasiswa Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor

Bunch, R. 2001. Dua Tongkol Jagung : Pedoman Pengembangan Pertanian Berpangkal pada Rakyat. Edisi Kedua. Yayasan Obor Indonesia, Jakarta

Ilham, N. 2007. Alternatif Kebijakan Peningkatan Pertumbuhan PDB Subsektor Peternakan di Indonesia. Analisis Kebijakan Pertanian. Volume 5 (4) : 2007 : 335-357

Imam, H. M.. 2003. Strategi Usaha Pengembangan Peternakan yang Berkesinambungan. Prosiding Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Puslitbang Peternakan, Bogor 29 – 30 September 2003 :29-33

Laurer, H. R. 1993. Perspektif Tentang Perubahan Sosial. Edisi Kedua. PT Aneka Cipta. Jakarta

Mardikanto, T. 1993, Penyuluhan Pembangunan Pertanian, Sebelas Maret University Press, Surakarta.

Nitis, I.M. 1993. Forage Production System in Marginal Land. Proc. Seminar on Ruminant Nutrition in the Tropics, Cipanas.

Ponniah, A, R. Puskur, S.Workneh and D. Hoekstra. 2008. Concepts and practices in agricultural extension in developing countries: A source book. International Livestock Research Institute (ILRI), Addis Ababa, Ethiopia

Rogers, E.M. 1995. Diffusion of Innovations (4th ed.). Free Press. New York

Soetanto, H. 2000. Masalah Gizi dan Produktivitas Ternak Ruminansia di Indonesia. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Fakultas Peternakan. Universitas Brawijaya. Universitas Brawijaya, Malang

Sudana, W. 1988. Alokasi Optimal Sumberdaya di Daerah Transmigrasi Pematang Panggang, Sumatera Selatan. Tesis Fakultas Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor

Sudardjat, S. 2000. Potensi dan Prospek Bahan Pakan Lokal Dalam Mengembangkan Industri Peternakan di Indonesia. Buletin Peternakan Edisi Tambahan : 11-15.

Sunaryo dan L. Joshi. 2003. Peranan Pengetahuan Ekologi Lokal Dalam Sistem Agroforestri. Bahan Ajaran 7. World Agroforestry Centre (Icraf), Southeast Asia Regional Office, Bogor,

Sutrisno, C.I. 1985. Pemanfaatan Limbah Pertanian untuk Pakan, dalam Kumpulan Makalah Ilmiah UNDIP. Badan Penerbit UNDIP, Semarang, 279 – 289.

Sutrisno, C.I. 2009. Pemanfaatan Sumber Daya Pakan Lokal Terbarui. Seminar Nasional Kebangkitan Peternakan. Program Magister Ilmu Ternak Program Pascasarjana Universitas Diponegoro, Semarang, 20 Mei 2009, Semarang

Yusdja, Y dan N. Ilham. 2003. Tinjauan Kebijakan Pengembangan Agribisnis Sapi Potong. Analisis Kebijakan Pertanian. Volume 2 (2) : 183-203

Yusdja, Y. 2004. Pemantapan Program dan Strategi Kebijakan Peningkatan Produksi Daging Sapi. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian.Bogor, Bogor

Tinjauan Ilmu Penyuluhan dalam Perspektif Filsafat Ilmu

oleh : Agustina Abdullah

Dosen Jurusan Sosial Ekonomi Peternakan UNHAS, Makassar

Arti dan Pentingnya Filsafat Ilmu

Manusia mempunyai seperangkat pengetahuan yang bisa membedakan antara benar dan salah, baik dan buruk. Namun penilaian ini hanya bisa dilakukan oleh orang lain yang melihat kita. Orang lain yang mampu memberikan penilaian secara objektif dan tuntas, dan pihak lain yang melakukan penilaian sekaligus memberikan arti adalah pengetahuan yang disebut filsafat. Filsafat berhubungan dengan kehidupan sehari-hari kita. Kemungkinan filsafat bisa juga disebut dengan apresiasi.

Kata “filsafat” berasal dari bahasa Yunani, philosophia : philein artinya cinta, mencintai, philos pecinta, sophia kebijaksanaan atau hikmat. Jadi filsafat artinya “cinta akan kebijaksanaan”. Cinta artinya hasrat yang besar atau yang berkobar-kobar atau yang sungguh-sungguh. Kebijaksanaan artinya kebenaran sejati atau kebenaran yang sesungguhnya. Filsafat berarti hasrat atau keinginan yang sungguh akan kebenaran sejati. Demikian arti filsafat pada mulanya. Menurut dari asal katanya pengertian filsafat terdiri dari kata filos (philos) yang artinya cinta dan solfiah yang artinya kearifan/kebijaksanaan. Filsafat berasal dari bahasa Yunani “Philosophia” yang mempunyai arti cinta akan kebijaksanaan/kearifan. Sedangkan berfilsafat mempunyai pengertian berpikir secara mendalam tentang hakekat segala sesuatu dengan cara mencari makna yang paling mendalam/makna sesungguhnya.

Filsafat mencoba memberikan gambaran tentang pemikiran manusia secara keseluruhan, dan bahkan tentang realitas jika hal ini diyakini dapat dilakukan. Dalam perkembangan sejarah istilah filsafat, falsafah, atau filosofi ternyata dipakai dengan arti yang beraneka ragam. Bagi orang Yunani Kuno filsafat secara harfiah berarti cinta kepada kebijaksanaan, namun dalam keadaan sekarang digunakan dalam banyak konteks. Memiliki falsafah dapat diartikan memiliki pandangan hidup, seperangkat pedoman hidup, ataupun nilai-nilai tertentu. Istilah filusuf semula bemakna pecinta kebijaksanaan dan berasal dari jawaban yang diberikan oleh Phytagoras ketika ia disebut bijak. Ia berkata bahwa kebijaksanaannya hanya berarti kesadaran bahwa ia bodoh, sehingga ia tidak dapat disebut bijak tetapi orang mencari kebijaksanaan. Disini kebijaksanaan tidak dibatasi dari bagian tertentu dari pemikiran. Permasalahan yang berada dalam filsafat menyangkut pertanyaan, pertanyaan mengenai makna, kebenaran, dan hubungan yang logis antara ide-ide yang tidak dapat dipecahkan oleh ilmu pengetahuan empiris.

Filsafat membawa kepada pemahaman dan tindakan. Tujuan filsafat adalah mengumpulkan pengetahuan sebanyak mungkin, dan menerbitkan dan mengatur semuanya itu di dalam bentuk yang sistematis. Filsafat membawa kita kepada pemahaman, dan pemahaman membawa kita kepada tindakan yang lebih layak. Keinginan kefilsafatan adalah pemikiran secara ketat. Filsafat merupakan suatu analisis secara hati-hati terhadap penalaran-penalaran suatu masalah, dan penyusunan secara sengaja serta sistematis atas suatu sudut pandang yang menjadi dasar suatu tindakan. Perlu diingat bahwa kegiatan yang dinamakan kegiatan kefilsafatan itu sesungguhnya merupakan perenungan atau pemikiran. Pemikiran jenis ini berupa meragukan segala sesuatu, mengajukan pertanyaan, menghubungkan gagasan yang satu dengan yang lain, menanyakan “mengapa” dan mencari jawaban yang lebih baik dibandingkan dengan jawaban yang tersedia pada pandangan pertama. Filsafat sebagai perenungan mengusahakan kejelasan, keruntutan, dan keadaan memadainya pengetahuan agar kita dapat mengetahui pemahaman.

Setelah dijelaskan tentang beberapa pengertian filsafat, akan muncul pertanyaan bagaimana hubungan antara ilmu dengan filsafat. Agar ada kejelasan berikut ini dijelaskan beberapa pengertian tentang ilmu. Ilmu berasal dari bahasa Arab, ‘alama. Arti dasar dari kata ini adalah pengetahuan. Penggunaan kata ilmu dalam proposisi bahasa Indonesia sering disejajarkan dengan kata science dalam bahasa Inggris. Kata science itu sendiri memang bukan bahasa Asli Inggris, tetapi merupakan serapan dari bahasa Latin , Scio, scire yang arti dasarnya pengetahuan. Ada juga yang menyebutkan bahwa science berasal dari kata scientia yang berarti pengetahuan. Scientia bersumber dari bahasa Latin Scire yang artinya mengetahui : 1) Terlepas dari berbagai perbedaan asal kata, tetapi jika benar ilmu disejajarkan dengan kata science dalam bahasa Inggris, maka pengertiannya adalah pengetahuan. Pengetahuan yang dipakai dalam bahasa Indonesia, kata dasarnya adalah “tahu”. 2) Secara umum pengertian dari kata “tahu”

Ilmu adalah suatu pengetahuan ilmiah yang memiliki syarat-syarat : a). dasar pembenaran, yang dapat dibuktikan dengan metode ilmiah dan teruji dengan cara kerja ilmiah, b). sistematik, yaitu terdapatnya sistem yang tersusun dari mulai proses, metode,dan produk yang saling terkait, dan c). intersubyektif, yaitu terjamin keabsahan atau kebenarannya. Dilain pihak, sifat ilmu yang penting adalah a). universal : berlaku umum, lintas ruang dan waktu yang berada di bumi ini, b). communicable : dapat dikomunikasikan dan memberikan pengetahuan baru kepada orang lain, c).progresif : adanya kemajuan, perkembangan, atau peningkatan yang merupakan tuntutan modern.


Apakah Penyuluhan adalah Ilmu ?

Mencermati penjelasan di atas, penyuluhan apakah sebuah ilmu ?. Jika suatu ilmu merupakan dasar pembenaran, maka penyuluhan adalah ilmu karena dengan memberi informasi misalnya kepada masyarakat dan informasi ini dapat diterima dengan baik maka dibutuhkan kajian atau metode yang baik yang dapat dilakukan untuk menyampaikan informasi tersebut dengan benar. Sebagai ilmu, penyuluhan memenuhi kriteria sistematik, karena memberi informasi kepada masyarakat dibutuhkan proses, metode dan produk informasi yang dihasilkan atau diterima ke masyarakat.

Dari sisi sifat ilmu, penyuluhan memenuhi kriteria universal, communicable, dan progresif. Secara universal, penyuluhan dapat digunakan dalam berbagai bidang atau aspek kemasyarakatan sehingga bersifat umum dan dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak, Penyuluhan bersifat communicable, karena dapat disampaikan kepada masyarakat dan dengan memberi penyuluhan atau memberi informasi kepada masyarakat akan memberikan pengetahuan baru kepada masyarakat.

Penyuluhan dalam Sistematika Filsafat Ilmu

Filsafat beserta cabang-cabangnya secara sederhana terbagi menjadi tiga macam yang menjadi lahan kerja filsafat, yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi. Ketiga dari lahan garapan filsafat tersebut termuat dalam tiga pertanyaan dimana dalam ontologi bertanya tentang apa. Pertanyaan apa tersebut merupakan pertanyaan dasar dari sesuatu. Sedangkan dalam epistemologi, mengenalinya dengan menggunakan pertanyaan mengapa. Sedangkan untuk aksiologi merupakan kelanjutan dari dari epistemologi dengan menggunakan pertanyaan bagaimana. Pertanyaan bagaimana tersebut merupakan kelanjutan dari setelah mengetahui dan cara mengetahuinya diteruskan dengan bagaimanakah sikap kita selanjutnya. Sistematika dalam filsafat mencakup dengan tiga pertanyaan apa yang dapat saya ketahui, apa yang dapat saya harapkan, apa yang dapat saya lakukan.

Suatu paradigma ilmu termasuk penyuluhan pada hakekatnya mengharuskan ilmuwan untuk mencari jawaban atas suatu pertanyaan mendasar yaitu bagaimana, apa dan untuk apa. Tiga pertanyaan di atas dirumuskan menjadi beberapa dimensi yaitu :

a. dimensi ontologis yaitu apa sebenarnya hakikat dari sesuatu kejadian alam dan sosial ekonomi masyarakat yang dapat diketahuinya atau apa hakikat dari setiap kejadian di penyuluhan selama ini ditinjau sebagai ilmu; mengapa kita melakukan penyuluhan; bagaimana hubungan sumberdaya alam/manusia dengan sistem nilai penyuluhan dan sistem nilai suatu kebijakan pembangunan; bagaimana sektor peternakan di Indonesia dinilai terpinggirkan ketimbang kebijakan industri manufaktur, sehingga terjadi transformasi struktural semu; dsb,

b. dimensi epistemologis yaitu apa sebenarnya hakikat hubungan antara pencari ilmu khususnya di bidang penyuluhan peternakan dengan fenomena obyek yang ditemukannya; bagaimana prosedurnya; hal-hal apa yang seharusnya diperhatikan untuk memperoleh pengetahuan tentang penyuluhan peternakan yang benar; apa kriteria benar itu; model, metode dan pendekatan apa dilakukan untuk mendapatkan pengetahuan penyuluhan peternakan sebagai suatu ilmu,

c. dimensi axiologis yaitu seberapa jauh peran sistem nilai dalam suatu penelitian tentang penyuluhan peternakan; untuk apa mengetahui penyuluhan peternakan; bagaimana menentukan obyek dan tehnik prosedural suatu telaahan penyuluhan peternakan dengan mempertimbangkan kaidah moral atau profesional.

Terkait dengan pengembangan penyuluhan, tiga dimensi yang telah dipaparkan diatas selayaknya ditambahkan dua dimensi untuk melengkapinya yaitu :

a. dimensi retorik yaitu apa bahasa yang digunakan dalam penyuluhan peternakan untuk meningkatkan adopsi teknologi pakan; bagaimana dengan bahasa yang dipakai sebagai alat berpikir dan sekaligus menjadi alat komunikasi yang berfungsi untuk menyampaikan jalan pikirannya kepada orang lain; bahasa yang dipakai seharusnya sebagai sarana ilmiah dan tentunya obyektif namun menafikan kecenderungan sifat emotif dan afektif;

b. dimensi metodologis yaitu bagaimana cara atau metodologi yang dipakai dalam menemukan kebenaran suatu ilmu pengetahuan penyuluhan peternakan kaitannya dengan fenomena adopsi teknologi misalnya; apakah deduktif atau induktif; monodisiplin, multidisiplin dan interdisiplin; kuantitatif atau kualitatif atau kombinasi keduanya; penelitian dasar atau terapan. Berkaitan pula dengan penyuluhan peternakan, khususnya bagi yang berminat dalam kegiatan penelitian, diperlukan penerapan metodologi dalam program penelitian.

Mempelajari Penyuluhan

Bagi seorang pemula, memasuki dunia filsafat berarti memasuki ranah dunia yang begitu mempesona sekaligus menantang dengan puluhan filosof dengan pemikirannya masing-masing. Untuk menyelami maka diperlukan bagaimana cara mendekati filsafat dan bagaimana cara masuk untuk mempelajarinya.

Pertama adalah pendekatan secara historis dengan berbagai variasinya. Metode ini dipandang baik bagi para pemula, dalam pendekatan ini pemikiran para filusuf terpenting dan latar belakang mereka dipelajarai secara kronologis. Secara sederhana dalam sejarahnya filsafat terbagi menjadi tiga zaman yaitu Yunani Kuno, pertengahan dan modern. Kedua adalah pendekatan metodologis cara ini memahami filsafat adalah kita berfilsafat. Dalam pendekatan ini, berbagai macam metode filsafat ditimbang-timbang dan metode tersebut dipandang terbaik untuk melakukan filsafat. Ketiga adalah pendekatan analisis dalam pendekatan ini dalam mempelajari filsafat kita menjelaskan unsur-unsur dari filsafat dan dalam pendekatan ini unsur filsafat dijelaskan dengan sejelas-jelasnya. Keempat adalah pendekatan eksistensial dalam pendekatan ini memperkenalkan jalan hidup filosofis tanpa terbelenggu oleh sistematikanya. Pendekatan ini tema-tema pokok filsafat dialami dengan harapan memperoleh gambaran filasafat secara keseluruhan.

Terdapat cukup alasan yang baik untuk belajar filsafat, khususnya apabila ada pertanyaan-pertanyaan rasional yang tidak dapat atau seyogyanya tidak dijawab oleh ilmu atau cabang ilmu-ilmu. Misalnya: apakah yang dimaksud dengan pengetahuan, dan atau ilmu? Dapatkah kita bergerak ke kiri dan kanan di dalam ruang tetapi tidak terikat oleh waktu? Dapatkah masyarakat menerima atau tidak sebuah informasi dengan penyuluhan?

Dalam pembelajaran filsafat ilmu dalam ilmu-ilmu sosial misalnya penyuluhan maka beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah :

a. Perlu penelaahan peran filsafat ilmu dalam memberikan spirit perkembangan dan kemajuan ilmu penyuluhan sekaligus kandungan nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya baik pada tataran ontologi, epistemologi maupun aksiologi. Disamping itu perlu dikaji kaitan ilmu-ilmu beragam dimensi dan fenomena sosial masyarakat dalam suatu realitas yang komprehensif.

b. Meningkatkan pemahaman tentang hakikat manusia sebagai individu dan anggota sistem sosial dan tentunya sebagai mahluk Allah pencipta alam semesta. Mengembangkan kesadaran bahwa ilmu yang dimilikinya masih jauh dari cukup. Bagaimana menyadarkan mereka bahwa ilmu itu tidak ada batasnya sementara kemampuan manusia terbatas. Dan ini sangat penting untuk menumbuhkan sifat rendah hati dimana melihat sesuatu itu jangan hanya dari kaca mata ilmunya saja. Masih banyak kaca mata lain dalam menelaah sesuatu.

c. Dengan memfokuskan diri pada pertanyaan- pertanyaan dasar tersebut, filsafat ilmu tidak lagi bersifat deskriptif sebagaimana diusahakan ilmu-ilmu empiris, melainkan bersifat normatif kritis. Perhatian utama setiap filsafat ilmu adalah menjelaskan norma-norma dasar dari bangunan ilmu . Ia tidak hanya menjelaskan ilmu apa adanya melainkan secara kritis merefleksikan ilmu itu, sehingga pertanyaan “bagaimana seharusnya ilmu itu” dapat dijawab dengan baik. Jika etika ilmu mengarahkan perhatiannya pada masalah kriteria kebaikan ilmu bagi hidup manusia maka epistemologi ilmu akan mengarahkan dirinya pada masalah kriteria kebenaran dan kebebasan ilmu.

d. Agar para penuntut ilmu mampu lebih mengerti dalam memahami filsafat ilmu penyuluhan maka hendaknya dalam teknik pembelajaran diterapkan pendekatan-pendekatan : (a) Setiap pembahasan beragam dimensi filsafat ilmu sebaiknya dilakukan dengan cara menarik dan tidak monoton yakni dengan pemberian contoh-contoh nyata/aktual dari gejala-gejala sosial yang ada di masyarakat; (b) Aktif untuk berpikir dan menganalisis fenomena sosial dengan menggunakan filsafat sebagai salah satu rujukannya.

Bahan Bacaan

Mangkuprawira, S. 2008. Belajar Filsafat Ilmu : Belajar Kearifan. http://ronawajah. wordpress.com

Anonim. 2008. Filsafat Ilmu Pengetahuan. http://safegoreti.wordpress.com

Kebung, K. 2008. Filsafat dan Perwujudan Diri : Belajar Filsafat dan Berfilsafat. http://eputobi.net/eputobi/konrad/temp/filsafatdanberfilsafat.htm

Adzanwahiddien. 2008. Hubungan Ilmu dan Filsafat. http://makalahkumakalahmu. wordpress.com/

KusumahPentingnya Landasan Filsafat Ilmu Pendidikan. http://wijayalabs.blogspot.com

Pormadi. 2008. Filsafat dan Pembagiannya. http://pormadi.wordpress.com


Kamis, 11 Juni 2009

Peternakan dengan Pendekatan Agroekosistem

Agustina Abdullah
Mahasiswa Program Doktor UNDIP Semarang dan
Dosen Fak. Peternakan UNHAS

Sering terdapat pandangan kurang tepat melihat sumberdaya ternak dan pengelolaannya sebagai bagian berdiri sendiri. Selama ini pandangan kita hanya melihat pengembangan ternak terpisahkan dengan sektor pertanian lainnya. Pandangan ini juga terjadi di subsektor tanaman pangan, perkebunan, dll, sehingga terjadi egosektoral, hanya mementingkan subsektornya masing-masing. Pandangan dimana melihat peternakan terpisahkan dengan lainnya membuat peternakan berkembang tidak optimal. Pemanfaatan sumberdaya terbatas, seperti pemanfaatan limbah pertanian tidak dilakukan karena tidak adanya sinergi antar subsektor dalam memanfaatkan sumberdaya. Kekeliruan pandangan seperti dikemukakan di atas menimbulkan deviasi permasalahan dalam pengembangan peternakan. Permasalahan yang dapat terjadi adalah ternak mengganggu tanaman lainnya, padahal ternak dapat dioptimalkan fungsinya sebagai sumber tenaga kerja di sub sektor tanaman pangan, dapat menghasilkan pupuk untuk meningkatkan kesuburan tanah dan tanaman. Akibatnya tidak jarang ternak dianggap hama, sesuatu yang keberadaannya dianggap merugikan.

Bagimana menghindari kekeliruan itu?. Diperlukan pendekatan sistem dalam pengelolaan ternak. Pendekatan sistem adalah pendekatan yang sinergi (saling menunjang), holistik (pandangan menyeluruh, tidak parsial/sendiri-sendiri), terpadu, dan saling mengisi antar sub sistem yang ada dalam sebuah sistem. Jika pendekatan sistem ini kita gunakan untuk pengelolaan ternak, maka segala hal yang terkait dengan pengembangan ternak dalam bentuk subsistem harus sinergi seperti lahan, pakan, peternak, dll. Segala sub sistem harus terpadu dalam sebuah agroekosistem.

Sebelum kita berbicara tentang pendekatan agroekosistem dalam pengelolaan ternak terlebih dahulu kita membahas tentang bagaimana ekosistem. Ekosistem adalah sebuah sistem dan dapat dilihat secara struktural. Secara struktural pada dasarnya ekosistem terdiri atas dua bagian subsistem yaitu biotik dan abiotik. Biotik terkait dengan makhluk yang hidup dan abiotik adalah makhluk tak hidup. Selanjutnya khusus subsistem biotik dibagi ke dalam tiga sub-subsistem yaitu produsen, konsumen, dan pengurai. Jika ekosistem secara struktural kita pandang secara fungsional (menurut fungsinya) dari masing-masing struktural tersebut dapat diterjemahkan menurut fungsinya. Untuk biotik ada yang berfungsi sebagai produsen, sebagai konsumen, dan sebagai pengurai. Antara biotik dan abiotik salah berhubungan secara fungsional.

Dalam agroekosistem terdapat keterkaitan/simbiosis antar komponen ekosistem, atau siapa mempengaruhi siapa. Berdasarkan penjelasan sebelumnya, secara fungsional ada produsen yang jika diterjemahkan lebih jauh fungsi sebagai produsen dalam eksosistem dilakukan oleh tumbuh-tumbuhan. Tumbuhan/tanaman dengan menerima masukan energi sinar matahari, hujan, menghasilkan sumber pangan/pakan yang dibutuhkan oleh ternak selaku konsumen. Dalam ekosistem tanaman sebagai produsen dan ternak sebagai konsumen saling terkait dan mendukung (sinergi). Tanaman menyediakan pakan untuk ternak dan dilain pihak ternak menghasilkan pupuk dengan kotorannya untuk tanaman. Hubungan secara timbal balik. Selanjutnya keberadaan tanaman sangat bergantung pada kondisi abiotik (tak hidup) yaitu lahan, tanah, zat hara, mineral tanah. Zat hara tanah dan kesuburan tanah sangat tergantung dengan keberadaan mikroba tanah, hewan tanah (cacing, dll) sebagai pengurai. Keterkaitan yang lain dalam ekosistem ini adalah antara ternak dengan pengurai. Ternak menghasilkan kororan/feses dan dengan mikroba terurai/terdekomposisi sehingga zat hara lebih tersedia dan pada gilirannya menyuburkan tanah (abiotik). Dengan demikian secara fungsional ternak dalam ekosistem memiliki peran penting. Disamping sebagai konsumen, juga dapat berfungsi sebagai produsen pada jenis ekosistem yang berbeda.

Jika dasar pemikiran kita melihat pengelolaan ternak melalui pendekatan sistem, maka ternak akan berada pada sebuah sistem yaitu sistem pertanian secara luas atau agroekosistem. Agroekosistem adalah sebuah sistem pertanian dimana subsistem dan subsubsistem di dalamnya saling terkait. Diketahui bahwa pertanian secara luas terdiri atas perkebunan, pertanian/tanaman pangan, kehutanan, perikanan, dan peternakan. Peternakan yang merupakan bagian dari agroekosistem harus bersinergi dan terpadu dengan bagian agroekosistem yang lain, khususnya saling mendukung dalam memanfaatkan sumberdaya seperti lahan. Jika pemikiran kita tidak melihat sebagai sebuah agroekosistem maka akan terjadi permasalahan dalam hal penguasaan sumberdaya lahan, akan terjadi klaim tentang penggunaan lahan dan terjadi saling mengabaikan. Akan terjadi ada bagian/subsektor misalnya tanaman pangan lebih penting dari yang lain atau sebaliknya. Dengan demikian akan tidak terjadi keterpaduan antar subsektor. Lebih jauh jika kita membangun semua ini dalam konteks pendekatan agroekosistem, maka tidak akan ada terjadi permasalahan seperti dikemukakan diatas. Terjadi saling mengisi dan memanfaatkan sumberdaya secara bersama dan terjadi hubungan saling menguntungkan (simbiose mutualisme), bukan saling merugikan.

Agroekosistem sebagai sebuah pendekatan dalam pengembangan peternakan dalam pelaksanaannya dapat dilakukan dengan pola integrasi ternak dan tanaman atau crop livestock system. Tanaman disini dapat diartikan sebagai intergrasi ternak-padi, integrasi ternak-jagung, integrasi ternak-coklat, integrasi ternak-kelapa, dll. Dalam crop livestock system keberadaan ternak dan tanaman saling terpadu dalam satu agroekosistem. Model pengembangan agroekosistem dalam pengembangan peternakan yang secara operasional dapat dikembangkan/dilakukan di tingkat petani yaitu dengan pola integrasi tanaman pangan (crop) dengan ternak sapi. Tanaman padi disamping menghasilkan produk utama padi/beras, juga ada limbah berupa jerami. Tanaman padi dalam agroseksistem dapat tumbuh dan berkembang dengan baik atas adanya unsur hara tanah yang baik, dan atas adanya penyinaran matahari, sumber air dari hujan. Limbah tanaman padi berupa jerami merupakan biomas yang dapat dimanfaatkan oleh ternak sebagai pakan. Sebaliknya, ternak menghasilkan pupuk untuk tanaman padi. Secara sederhana hubungan ini dapat terjadi dalam sebuah agroekosistem tanaman padi-ternak sapi. Pengembangan ternak sapi dan tanaman pangan dalam sebuah agroekosistem tidak dapat dipisahkan dengan potensi dan kemampuan manusia (peternak/petani). Manusia sangat bergantung juga dengan tanaman padi dan ternak sapi sebagai sumber pangan, dan sisi lain manusia/peternak sebagai pengelola (tenaga kerja).

Berbicara tentang pengembangan sapi maka dapat dibagi atas tiga hal yaitu ada input produksi, ada proses budidaya, dan ada output produksi. Pemeliharaan sapi memerlukan input utama adalah pakan, disamping input yang lain seperti obat-obatan, dll. Dalam proses budidaya dibutuhkan manajemen pemeliharaan yang baik seperti tingkat kelahiran ternak yang tinggi (minimal sekali dalam setahun) dengan melalui kawin alam. Namun demikian, tingkat kelahiran yang tinggi dapat dicapai jika adanya dukungan/dilakukan introduksi teknologi inseminasi buatan. Dengan teknologi IB tingkat kelahiran ternak dapat lebih ditingkatkan.

Output dari ternak sapi adalah berupa anak sapi jika dilakukan breeding (pembibitan), atau ternak sapi/daging jika dilakukan penggemukan. Disamping output tersebut juga dihasilkan limbah feses. Dengan sentuhan teknologi maka feses dapat diolah menjadi biogas sebagai sumber energi untuk keperluan memasak misalnya pada keluarga petani, dan pupuk yang digunakan untuk tanaman padi di sawah. Lebih jauh pupuk yang dihasilkan akan menjadikan tanaman padi tumbuh subur dan menghasilakan produk pangan beras. Jerami padi hasil dari limbah tanaman padi, dapat digunakan sebagai pakan. Namun, kita ketahui jerami padi rendah kualitasnya dan sulit dicerna sehingga perlu sentuhan teknologi dalam meningkatkan nilai manfaatnya sebagai pakan. Dengan introduksi teknologi pakan, jerami padi dengan optimal dapat dimanfaatkan sebagai pakan untuk sapi sebagai bagian input produksi dari pemeliharaan sapi.

Dengan demikian, pengembangan peternakan dengan pendekatan agroekosistem adalah sebuah pendekatan secara holistik dan simultan, serta solusi untuk menyelesaikan berbagai permasalahan di tingkat petani. Berbagai keterbatasan sumberdaya misalnya kelangkaan pupuk, kelangkaan minyak tanah, kekurangan pakan ternak dapat diatasi dan segala sumberdaya dimanfaatkan secara optimal. Semoga pendekatan agroekosistem dengan pola integrasi tanaman dan ternak sapi dapat terwujud terutama untuk mendukung peningkatan populasi sapi sejuta ekor di tahun 2013 di Sulawesi Selatan. Dan hal paling menentukan keberhasilan pola integrasi tanaman dan ternak sapi adalah adanya integrasi dan sinergi kebijakan antar sub sektor dalam pertanian dengan pandangan secara holistik dan menghilangkan adanya egosektoral.

Senin, 17 November 2008

PERANAN PENYULUHAN DAN KELOMPOK TANI TERNAK UNTUK MENINGKATKAN ADOPSI TEKNOLOGI DALAM PETERNAKAN SAPI POTONG

Agustina Abdullah
Jurusan Sosial Ekonomi Peternakan Universitas Hasanuddin
Jl. Perintis Kemerdekaan KM 10 Kampus UNHAS Tamalanrea Makassar
(Makalah Seminar Nasional Sapi Potong. Universitas Tadulako Palu, 24 Nopember 2008)

Abstrak
Dalam rangka pengembangan peternakan khususnya sapi potong, penyuluhan sangat memiliki peranan penting khususnya dalam penguatan kelompok tani dan peningkatan proses adopsi teknologi peternakan kepada peternak. Keberhasilan penyuluhan sangat ditentukan oleh model penyuluhan yang sesuai dengan kebutuhan peternak, yaitu ketepatan materi, metode dan media yang digunakan. Pengembangan kelompok tani perlu dilaksanakan dengan nuansa partisipatif sehingga prinsip kesetaraan, transparansi, tanggungjawab, akuntabilitas serta kerjasama menjadi muatan-muatan baru dalam pemberdayaan peternak. Dilain pihak, untuk meningkatkan adopsi teknologi peternakan dalam pengembangan sapi potong beberapa kriteria yang perlu dipertimbangkan terkait dengan teknologi yang diintodusir ke peternak. Teknologi harus dirasakan sebagai kebutuhan oleh petani kebanyakan, memberi keuntungan secara konkrit bagi petani, mendayagunakan sumberdaya yang sudah ada, terjangkau oleh kemampuan finansial peternak, serta teknologi harus sederhana tidak rumit dan mudah dicoba peternak.

Kata kunci : penyuluhan, kelompok tani, adopsi teknologi, sapi potong

Pendahuluan
Dalam mengembangkan ternak sapi potong tentunya tidak terlepas dari peranan kelompok tani ternak dalam mengupayakan ternaknya agar mendapat nilai tambah serta efisien dalam pengelolaannya. Upaya yang perlu dikembangkan dalam membina dan memantapkan kelompok peternak adalah memperkuat kelembagaan ekonomi petani peternak di pedesaan. Untuk itu diperlukan pendekatan yang efektif agar petani/peternak dapat memanfaatkan program pembangunan yang ada, secara berkelanjutan, melalui penumbuhan rasa memiliki, partisipasi dan pengembangan kreatifitas, disertai dukungan masyarakat lainnya sehingga dapat berkembang dan dikembangkan oleh masyarakat tani disekitarnya (Muslim, 2006).
Upaya ini diarahkan untuk terbentuknya kelompok-kelompok peternak, kerjasama antar kelompok sehingga terbentuk kelompok yang produktif yang terintegrasi dalam satu koperasi dibidang peternakan (Ditjen Bina Produksi Peternakan, 2002a). Melalui kelompok peternak sapi potong diharapkan para peternak dapat saling berinteraksi, sehingga mempunyai dampak saling membutuhkan, saling meningkatkan, saling memperkuat, sehingga akan meningkatkan pengetahuan dan kemampuan dalam mengelola sistem usaha agribisnis dan agroindustri secara potensial.
Secara teoritis pengembangan kelompok tani ternak dilaksanakan dengan menumbuhkan kesadaran para peternak, dimana keberadaan kelompok tani tersebut dilakukan dari, oleh dan untuk peternak. Pengembangan kelompok tani perlu dilaksanakan dengan nuansa partisipatif sehingga prinsip kesetaraan, transparansi, tanggungjawab, akuntabilitas serta kerjasama menjadi muatan-muatan baru dalam pemberdayaan peternak. Suatu kelompok tani yang terbentuk atas dasar adanya kesamaan kepentingan diantara peternak menjadikan kelompok tani tersebut dapat eksis dan memiliki kemampuan untuk melakukan akses kepada seluruh sumberdaya seperti sumberdaya alam, manusia, modal, informasi, serta sarana dan prasarana dalam mengembangan usahatani yang dilakukannya (Abdullah dan Syamsu, 2008).
Pemberdayaan peternak dapat berarti meningkatkan kemampuan atau kemandirian peternak dengan menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan peternak untuk dapat berkembang. Disamping itu peningkatan kemampuan peternak dalam membangun termasuk kelembagaan peternak (kelompok tani) dan melakukan perlindungan melalui pemihakan kepada yang lemah dengan mencegah persaingan yang tidak seimbang serta menciptakan kemitraan yang saling menguntungkan. Peran kelompok tani ternak sangat strategis sebagai wadah peternak untuk melakukan hubungan atau kerjasama dengan menjalin kemitraan usaha dengan lembaga-lembaga terkait dan sebagai media dalam proses transfer teknologi dan informasi. Dilain pihak, secara internal kelompok tani ternak sebagai wadah antar peternak ataupun antar kelompok tani dalam mengembangkan usahataninya (Ditjen Bina Produksi Peternakan, 2002b).
Untuk itu diperlukan langkah-langkah strategis dalam rangka pemberdayaan kelompok tani yang memiliki muatan partisipatif yaitu peternak dalam posisi sebagai pelaku pembangunan peternakan. Muatan partisipatif adalah peternak terlibat langsung dalam proses perencanaan, pelaksanaan, serta evaluasi dari kegiatan usaha peternakan sapi potong dalam wadah kelompok tani khususnya dalam meningkatkan adopsi teknologi peternakan sapi potong.
Penyuluhan dan Pemberdayaan Petani Peternak
Undang Undang Republik Indonesia, Nomor 16 Tahun 2006, menyatakan bahwa penyuluhan adalah proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan, dan sumberdaya lainnya, sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan, dan kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup. Sistem penyuluhan adalah seluruh rangkaian pengembangan kemampuan, pengetahuan, keterampilan, serta sikap pelaku utama dan pelaku usaha melalui penyuluhan.
Tujuan sistem penyuluhan meliputi pengembangan sumber daya manusia dan peningkatan modal sosial, yaitu: a. memperkuat pengembangan pertanian, perikanan, serta kehutanan yang maju dan modern dalam sistem pembangunan yang berkelanjutan; b. memberdayakan pelaku utama dan pelaku usaha dalam peningkatan kemampuan melalui penciptaan iklim usaha yang kondusif, penumbuhan motivasi, pengembangan potensi, pemberian peluang, peningkatan kesadaran, dan pendampingan serta fasilitasi; c. memberikan kepastian hukum bagi terselenggaranya penyuluhan yang produktif, efektif, efisien, terdesentralisasi, partisipatif, terbuka, berswadaya, bermitra sejajar, kesetaraan gender, berwawasan luas ke depan, berwawasan lingkungan, dan bertanggung gugat yang dapat menjamin terlaksananya pembangunan pertanian, perikanan, dan kehutanan; d. memberikan perlindungan , keadilan, dan kepastian hukum bagi pelaku utama dan pelaku usaha untuk mendapatkan pelayanan penyuluhan serta bagi penyuluh dalam melaksanakan penyuluhan; dan e. mengembangkan sumber daya manusia, yang maju dan sejahtera, sebagai pelaku dan sasaran utama pembangunan pertanian, perikanan, dan kehutanan (Undang-Undang No.16/2006).
Penyuluhan pertanian merupakan bagian dari pembangunan masyarakat pertanian yang diartikan sebagai pembangunan pertanian yang memihak petani. Dalam pelaksanaannya memerlukan berbagai perangkat material dan non-material, terutama keberanian untuk memihak. Elemen terpenting di dalam mengimplementasikan pembangunan masyarakat pertanian adalah elemen pemberdayaan sumber daya manusia petani yang menempati posisi sangat strategis yaitu berperan sebagai pelaku utama dan subyek pembangunan (prime mover to development).
Dalam rangka pemberdayaan petani peternak (farmer development), kunci pertama dan utama adalah ‘percaya kepada petani.’ Dengan demikian peran petani dalam pembangunan masyarakat adalah krusial dalam pengertian sebagai penentu keberhasilan pembangunan yang sangat berperan aktif dalam seluruh aspek kegiatannya. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi termasuk kesempatan untuk menikmati hasil pembangunan pertanian. Pembangunan pertanian yang berdimensi masyarakat harus dirancang sedemikian rupa sehingga dapat berakhir di petani dan berawal dari petani. Konsep inilah yang akan menggeser paradima ‘farmer last-top down’ menjadi ‘farmer first-botton up’ (Herawati dan Junanto, 2003).
Penyuluhan pertanian menekankan perlunya penyamaan persepsi dan sikap tentang visi, misi, etika bisnis, tujuan, sasaran dan rencana kerja bersama diantara para pelaku sistem agribisnis. Karena itu, kegiatan penyuluhan sistem agribisnis tidaklah adil jika hanya dilakukan kepada petani peternak saja. Petani memang memerlukan penyuluhan, tetapi para pelaku perusahaan agribisnis lainnya dan subsistem jasa penunjang yang terkait dalam sistem agribisnis juga perlu dilakukan penyuluhan. Jika hal ini berhasil, maka akan terbentuk hubungan yang harmonis dalam kebersamaan dan saling ketergantungan diantara para pelaku system agribisnis untuk menghasilkan visi, misi, etika bisnis, tujuan dan sasaran serta rencana kerja bersama agar dapat menghasilkan produk pertanian yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
Penyuluhan pertanian juga memerlukan perubahan perilaku penyuluh, yakni harus mampu: (a) meningkatkan profesionalisme penyuluh dengan melakukan perbaikan mutu layanan secara terus menerus yang mengacu kepada kebutuhan dan kepuasan pelanggannya; (b) menguasai materi penyuluhan yang menyangkut teknis produksi, manajemen agribisnis, manajemen hubungan sistem agribisnis, informasi permintaan pasar atau kebutuhan konsumen, jiwa kewirausahaan, serta etika bisnis dan keunggulan bersaing; (c) tidak menjadikan petani dan perusahaan agribisnis lainnya sebagai obyek tetapi sebagai subyek yang dapat menentukan masa depannya sendiri; dan (d) melakukan fungsi melayani (konsultatif) dengan sistem “menu” (Suparta, 2007).
Karakteristik Adopsi Teknologi
Adopsi inovasi merupakan suatu proses mental atau perubahan perilaku baik yang berupa pengetahuan (cognitive), sikap (affective), maupun keterampilan (psychomotor) pada diri seseorang sejak ia mengenal inovasi sampai memutuskan untuk mengadopsinya setelah menerima inovasi (Rogers dan Shoemaker, 1971). Hal senada disampaikan oleh Soekartawi (1988) yang menyatakan bahwa adopsi merupakan proses mental dalam diri seseorang melalui pertama kali mendengar tentang suatu inovasi sampai akhirnya mengadopsi.
Faktor lain yang mempengaruhi percepatan adopsi dan difusi inovasi adalah tepat tidaknya dalam menggunakan metode penyuluhan. Penggunaan metode yang efektif akan mempermudah untuk dipahami oleh petani. Sering sebagian orang menyamakan istilah komunikasi pertanian dengan penyuluhan pertanian, padahal keduaya berbeda satu sama lain. Perbedaan keduanya disampaikan oleh Soekartawi (1988) bahwa komunikasi pertanian adalah suatu pernyataan antar manusia yang berkaitan dengan kegiatan di bidang pertanian, baik secara perorangan maupun kelompok, yang sifatnya umum dengan menggunakan lambang-lambang tertentu; sedangkan penyuluhan pertanian adalah sistem pendidikan di luar sekolah (informal) yang diberikan kepada petani dan keluarganya dengan maksud agar mereka mampu, sanggup, dan berswadaya memperbaiki atau meningkatkan kesejahteraan keluarganya atau bila memungkinkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekelilingnya. Komunikasi mempunyai pengertian yang lebih luas dibanding penyuluhan, dengan kata lain dalam penyuluhan selalu ada unsur komunikasi, akan tetapi dalam komunikasi belum tentu ada unsur penyuluhan. Perbedaan mendasar lainnya adalah adanya unsur pendidikan dalam penyuluhan, dalam komunikasi tidak selalu ada. Dengan demikian, dalam penyuluhan perlu adanya materi yang perlu disiapkan dan penyampaian yang sistematis. Materi penyuluhan pertanian biasanya berupa inovasi-inovasi di bidang pertanian. Agar pesan inovasi tersebut dapat diterima dan diaplikasikan oleh target sasaran maka diperlukan metode penyuluhan.
Dari beberapa penelitian terungkap bahwa dalam program pembangunan pertanian terdapat sejumlah petani yang hanya mengadopsi komponen-komponen tertentu dari paket teknologi yang direkomendasikan, bahkan ada indikasi bahwa sebagian petani yang semula telah melaksanakan paket teknologi kemudian kembali lagi pada teknologi usahatani lama (Kepas, 1988). Gejala tersebut dapat menghambat upaya pelembagaan teknologi pertanian pada kelompok-kelompok sasaran. Di samping lingkungan fisik, Fliegel et al. (1971) telah mengungkapkan ada lima faktor yang mempengaruhi sikap petani dalam mengadopsi perubahan teknologi, yakni a) keuntungan nilai tambah relatif bila teknologi itu diadopsi, b) kecocokan teknologi dengan sosial budaya setempat, c) hasil pengamatan petani terhadap petani lain yang sedang atau telah mencoba teknologi itu sebagai dasar peletakan kepercayaan, d) mencoba sendiri akan keberhasilan teknologi baru dan e) kondisi ekonomi yang ada seperti ketersediaan modal, bagaimana konsekuensi kenaikan produksi terhadap harga produk. Faktor lain yang juga bekerja mempengaruhi adopsi tersebut, dikemukakan Maamun et al. (1993) yaitu (a) sifat/karakter individu/kelompok yang melakukan tindakan adopsi, (b) faktor sosial, ekonomi dan budaya, (c) penampilan dan kesesuaian teknologi, dan (d) faktor eksternal yaitu pelayanan dan kebijaksanaan dari lembaga terkait.
Ginting (2006) melaporkan bahwa dapat disimpulkan bahwa faktor penyebab sulitnya adopsi teknologi oleh petani dapat dilihat dari aspek sebagai berikut :
a. Teknis, yaitu pengaruh teknologi terhadap perbaikan hasil dan/atau pendapatan/keuntungan usaha tani belum diyakini benar oleh petani dan kurangnya jaringan informasi dan infrastruktur yang tidak mendukung kelancaran masuknya informasi dan ilmu pengetahuan dari luar bagi petani.
b. Pengetahuan, yaitu kurangnya sistem diseminasi teknologi pertanian (penyuluhan/demplot/gelar teknologi) dan rendahnya tingkat pendidikan/pengetahuan petani sehingga sulit menterjemahkan manfaat teknologi baru.
c. Sosial, yaitu pada umumnya petani miskin takut resiko dan disalahkan rekan-rekan sesama petani apabila terjadi kegagalan akibat menuruti kemauan sendiri. Jadi adopsi teknologi pada umumnya merupakan hasil musyawarah antar anggota kelompok tani atau antar sesama kelompok tani. Perubahan teknologi sering berarti menambah kebutuhan tenaga kerja, kecuali adopsi alsintan yang justru mengurangi tenaga kerja.
d. Ekonomi, perubahan teknologi sering berarti menambah jumlah biaya produksi, sedangkan modal merupakan suatu kendala bagi petani miskin.
Lebih lanjut dinyatakan Ginting (2006) bahwa permasalahan yang biasa ditemukan di tingkat petani adalah takut resiko rugi baik karena harga jual rendah dan sulit pemasaran dan sistem pemasaran yang belum efisien, ongkos transport yang tinggi sehingga harga jual di tingkat petani tertekan rendah; Akibatnya, perbaikan teknologi hanya sedikit saja berpengaruh terhadap kenaikan pendapatan/keuntungan petani, sehingga minat petani untuk mengadopsi teknologi baru kurang. Pada umumnya petani mengusahakan pertaniannya masih secara tradisional tanpa atau sangat sedikit mengalami perubahan/perbaikan teknologi.
Hal ini disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut: (1) Petani belum mengenal/mendengar teknologi baru baik dari penyuluh, peneliti atau dari rekan petani lainnya; (2) Petani sudah mendengarnya, tetapi belum pernah melihat teknologi baru tersebut; (3) Petani sudah pernah melihat teknologi baru tersebut namun belum pernah mencobanya; dan (4) Pernah mencoba teknologi tersebut, tetapi tidak dapat diadopsinya karena: (a) terlalu mahal baginya karena modal lemah; (b) terlalu sulit dan perlu waktu lama untuk memahaminya; (c) belum yakin akan mendatangkan tambahan keuntungan, karena takut resiko gagal. Oleh karebna itu, peningkatan produksi dan pemasaran dalam merespon peluang pasar memerlukan suatu dasar teknologi yang sehat (sound technological base) dan lingkungan informasi yang dinamis (vibrant information environment). Strategi harus disusun untuk membangun landasan dalam inovasi teknologi yang kondusif dalam mendukung tujuan kegiatan.
Menurut Hermanto (1999) masalah kurang tercapainya sasaran peningkatan sumberdaya manusia (petani) termasuk peningkatkan adopsi teknologi peternakan melalui penyuluhan adalah: metode penyuluhan kurang sesuai dengan kondisi sosial ekonomi petani dan materi yang disampaikan tidak sesuai dengan kebutuhan petani. Ketidaksesuaian tersebut disebabkan oleh masalah: (a) interaksi antara penyuluh dan petani kurang intensif; (b) kurangnya penguasaan materi dari penyuluh; dan (c) rendahnya kepekaan penyuluh terhadap masalah yang terjadi di petani (responsivness).
Upaya Peningkatan Adopsi Teknologi Peternakan
Salah satu faktor yang mempengaruhi percepatan adopsi adalah sifat dari inovasi itu sendiri. Inovasi yang akan diintroduksi harus mempunyai banyak kesesuaian (daya adaptif) terhadap kondisi biofisik, sosial, ekonomi, dan budaya yang ada di peternak. Untuk itu, inovasi yang ditawarkan ke petani harus inovasi yang tepat guna. Dari studi yang telah dilakukan Hendayana dan Yusuf (2003), menunjukkan bahwa hasil yang diperoleh tiap peternak dalam pemeliharaan sapi potong ternyata beragam. Ada dugaan bahwa inovasi teknologi penggemukan itu belum sepenuhnya diterapkan peternak. Kondisi tersebut tidak terlepas dari permasalahan adopsi inovasi teknologi. Adopsi adalah penerimaan atau penggunaan suatu ide, alat - alat atau teknologi baru oleh komunikan yang disampaikan oleh komunikator. Sehingga adopsi dapat diartikan suatu bentuk keputusan yang diambil oleh komunikan untuk menerima atau menerapkan inovasi yang diperolehnya dari komunikator maupun media masa. Secara empiris, adopsi inovasi teknologi oleh petani sering masih terbatas pada skala kecil. Di dalam inovasi biasanya komponen dipilih yang paling tinggi manfaatnya dan paling rendah resikonya.
Dilain pihak, Musyafak dan Ibrahim (2005), menyatakan bahwa upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan adopsi teknologi pertanian termasuk teknologi dalam peternakan sapi potong adalah memilih inovasi teknologi tepat guna yang memenuhi kriteria sebagai berikut.
a. Teknologi harus dirasakan sebagai kebutuhan oleh petani kebanyakan. Inovasi akan menjadi kebutuhan petani apabila inovasi tersebut dapat memecahkan masalah yang sedang dihadapi petani. Cara menemukan teknologi dengan kriteria ini adalah (a) mengidentifikasi masalah petani secara benar, dan (b) memberikan solusi masalah tersebut dengan inovasi (teknologi).
b. Teknologi harus memberi keuntungan secara konkrit bagi petani. Inovasi (teknologi) yang akan diterapkan harus dijamin akan memberikan keuntungan lebih dibanding inovasi (teknologi) yang sudah ada. Jika hal ini terjadi, niscaya petani akan mempunyai semangat untuk mengadopsi. Untuk menemukan inovasi (teknologi) dengan kriteria ini adalah (a) bandingkan teknologi introduksi dengan teknologi yang sudah ada, selanjutnya (b) identifikasi teknologi dengan biaya yang lebih rendah atau teknologi dengan produksi yang lebih tinggi.
c. Teknologi harus mendayagunakan sumberdaya yang sudah ada. Teknologi untuk para petani harus menggunakan sumberdaya yang sudah mereka miliki. Kalau sumberdaya dari luar mutlak diperlukan, kita harus memastikan bahwa sumberdaya itu murah, dapat diperoleh secara teratur dengan mudah dari suatu sumber tetap yang dapat diandalkan. Untuk memperoleh teknologi dengan kriteria tersebut, dapat dilakukan dengan cara (a) mengidentifikasi sumberdaya lokal yang tersedia, (b) mencari teknologi yang banyak mamanfatkan sumberdaya lokal tersebut.
d. Teknologi harus terjangkau oleh kemampuan finansial peternak. kendala adopsi yang datang secara internal dari inovasi itu sendiri adalah inovasi tersebut dirasakan mahal oleh petani. Sedangkan kendala adopsi dari luar inovasi itu sendiri adalah orientasi usaha, pasar, dan ketersediaan sarana pendukung (saprodi, dll). Sebagus apapun teknologi kalau tidak terjangkau oleh kemampuan finansial petani sebagai pengguna, maka akan susah untuk diadopsi. Apalagi kebanyakan petani relatif miskin, maka inovasi yang dirasakan murah akan lebih cepat diadopsi dibanding inovasi yang mahal. Cara menemukan teknologi ini adalah (a) mengidentifikasi kemampuan permodalan petani, sumber kredit yang bisa diakses petani, bantuan/pinjaman permodalan melalui program, dan sumber modal lain, (b) evaluasi, apakah teknologi yang diintroduksikan terbiayai oleh petani.
e. Teknologi harus sederhana tidak rumit dan mudah dicoba peternak. Semakin mudah teknologi baru untuk dapat dipraktekkan, maka makin cepat pula proses adopsi inovasi yang dilakukan petani. Oleh karena itu, agar proses adopsi dapat berjalan cepat, maka penyajian inovasi harus lebih sederhana. Dengan demikian kompleksitas suatu inovasi mempunyai pengaruh yang besar terhadap percepatan adopsi inovasi. Untuk menemukan teknologi dengan kriteria tersebut, dilakukan dengan mengevaluasi apakah teknologi yang diintroduksikan sederhana (tidak rumit), jika memang rumit dilakukan peragaan, percontohan, pelatihan secara partisipatif.
Proses adopsi melalui beberapa tahapan yaitu kesadaran (awareness), perhatian (interest), penaksiran (evaluation), percobaan (trial), adopsi (adopsi),konfirmasi (confirmation) (Mundy, 2000). Untuk mempermudah dalam memahami proses adopsi, berikut ini akan diberikan illustrasi tentang adopsi teknologi fermentasi jerami padi sebagai sapi potong. Jika peternak telah diperkenalkan teknologi fermentasi jerami padi sebagai pakan sapi potong, maka sejak itu, peternak mengalami proses mental untuk menerima atau menolak teknologi tersebut, dengan tahapan sebagai berikut.
1. Peternak menyadari bahwa pemanfaatan jerami padi melalui teknologi fermentasi sebagai pakan dapat meningkatkan produktivitas sapi potong dan memanfaatkan potensi limbah pertanian
• Tahap kesadaran (awareness)

2. Peternak mulai tertarik terhadap teknologi fermentasi jerami padi sebagai pakan dan mencari informasi tambahan dan lainnya mengenai hal tersebut
• Tahapan perhatian (interest)
3. Selanjutnya peternak memikirkan dan menimbang apakah mampu membiayai segala biaya yang ditimbulkan dari teknologi fermentasi jerami padi, apakah teknologi benar-benar bermanfaat atau apakah peternak lainnya mau membantu mengerjakan teknologi tersebut.
• Tahapan penaksiran (evaluation).

4. Peternak mencoba teknologi fermentasi jerami padi pada saat musim panen padi, dan jika tahap ini berhasil maka akan berlanjut ke tahap adopsi, dan jika gagal maka akan ke tahap penolakan.
• Tahap percobaan (trial).

5. Pada musim penen berikutnya, peternak memutuskan untuk tetap melakukan teknologi fermentasi jerami padi dalam jumlah yang lebih besar. Jika tahap ini berhasil maka adopsi akan berlanjut, dan jika gagal maka akan ke tahap penolakan
• Tahap adopsi (adopsi)

6. Setelah mengadopsi teknologi fermentasi jerami padi, peternak akan meminta informasi kepada peternak lainnya atau petugas penyuluh tentang apa yang dialami terkait teknologi fermentasi jerami padi
• Tahap konfirmasi (confirmation).

7. Bila peternak mengalami hambatan, dan kegagalan
selama pada tahap mencoba/konfirmasi/adopsi, maka
peternak akan memutuskan untuk tidak menggunakan atau menerapkan teknologi fermentasi jerami padi
• Tahap penolakan (rejection).

Penutup
Penyuluhan sangat memiliki peranan penting dalam pengembangan peternakan khususnya dalam penguatan kelompok tani dan peningkatan proses adopsi teknologi peternakan kepada peternak. Keberhasilan penyuluhan sangat ditentukan oleh model penyuluhan yang sesuai dengan kebutuhan peternak, yaitu ketepatan materi, metode dan media yang digunakan. Pengembangan kelompok tani ternak dilaksanakan dengan menumbuhkan kesadaran para peternak, dimana keberadaan kelompok tani tersebut dilakukan dari, oleh dan untuk peternak. Pengembangan kelompok tani perlu dilaksanakan dengan nuansa partisipatif sehingga prinsip kesetaraan, transparansi, tanggungjawab, akuntabilitas serta kerjasama menjadi muatan-muatan baru dalam pemberdayaan peternak.
Untuk meningkatkan adopsi teknologi peternakan dalam pengembangan sapi potong beberapa kriteria yang perlu dipertimbangkan terkait dengan teknologi yang diintodusir ke peternak. Teknologi harus dirasakan sebagai kebutuhan oleh petani kebanyakan, memberi keuntungan secara konkrit bagi petani, mendayagunakan sumberdaya yang sudah ada, terjangkau oleh kemampuan finansial peternak, serta teknologi harus sederhana tidak rumit dan mudah dicoba peternak.
Daftar Pustaka
Abdullah, A dan Syamsu, J. A. 2008. Penguatan Kelompok Tani Ternak dalam Pengembangan Agribisnis Peternakan. Buletin Peternakan. Edisi XXVIII. Dinas Peternakan Prov. Sul Sel, Makassar

Ditjen Bina Produksi Peternakan, 2002a. Pengembangan Kawasan Agribisnis Berbasis Peternakan. Direktorat Jendral Bina Produksi Peternakan Deptan, Jakarta

Ditjen Bina Produksi Peternakan. 2002b. Pengembangan Kelembagaan Peternak di Kawasan Agribisnis Berbasis Peternakan. Direktorat Pengembangan Peternakan, Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan, Departemen Pertanian, Jakarta

Fliegel, E.C, J.E. Kivlin And G.S. Sekhon. 1971. Message Distortion and The Diffusion of Innovations in Nothern India. Sociologica Ruralis.

Ginting, B. 2006. Adopsi teknologi oleh petani. http://pfi3p.litbang.deptan.go.id/
mod.php?mod=userpage&menu=60603&page_id=53

Hendayana, R dan Yusuf. 2003. Kajian Adopsi Teknologi Penggemukan Sapi Potong Mendukung Pengembangan Agribisnis Peternakan Di Nusa Tenggara Timur. Seminar Nasional Teknologi Peternakan Dan Veteriner. Puslitbang Peternakan, Bogor 29 – 30 September 2003, Bogor

Herawati, A.R dan D. Junanto. 2003. Pemberdayaan Masyarakat Daerah: Tantangan Dalam Mengelola Sumber Daya Manusia Di Era Otonomi Daerah (Kasus Pembangunan Masyarakat Pertanian Di Beberapa Negara). Jurnal Good Governance Vol. 2 Maret 2003

Hermanto. 1999. Identivikasi dan evaluasi program, proyek. Penggalangan kemiskinan, PSE Bogor, Rapat Kerja Nasional Departemen Pertanian, Jakarta.

Kepas. 1990. Program Supra Insus di Jalur Pantura Jawa Barat: Masalah, Kendala dan Sasaran Untuk Perbaikannya. Badan Litbang Pertanian dan The Ford Fundation.

Maamun, M.Y., IGP Sarasuta, dan A.H. Malian, 1993. Makalah Lokakarya Pertemuan Teknis Evaluasi Dan Program Penelitian Dan Pengembangan Proyek P3nt/Ntasp Di Balittan Maros, 3-5 Juni 1993.

Mundy, P. 2000. Adopsi dan Adaptasi Teknologi Baru. PAATP3. Bogor

Musyafak, A dan Ibrahim, T.M. 2005. Strategi Percepatan Adopsi Dan Difusi Inovasi Pertanian Mendukung Prima Tani. Analisis Kebijakan Pertanian. Volume 3 No. 1 : 20-37

Muslim, C. 2006. Peranan Kelompok Peternak Sapi Potong dengan Pendekatan Sistem Integrasi Padi Ternak (SIPT) di Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Badan Litbang Departemen Pertanian, Bogor

Roger, E.M. and F.F. Shoemaker. 1971. Communication of Innovation: A Cross Cultural Approach. The Free Press. New York

Soekartawi. 1988. Prinsip Dasar: Komunikasi Pertanian. UI Press. Jakarta

Suparta, N. 2007. Penyuluhan Sistem Agribisnis Suatu Pendekatan Holistik. Ps. Sosek Dan Agribisnis, Fakultas Peternakan Universitas Udayana, Denpasar

Undang-Undang Republik Indonesia No 16. 2006. Undang-Undang No. 16 Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan.